sumbarmadani – Dibalik setiap proses pembelajaran, selalu ada sebuah harapan, mampu memahami, mengolah dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Namun di Sekolah Luar Biasa (SLB), harapan itu memerlukan cara kerja yang lebih nyata, kesabaran yang lebih, kedekatan dengan murid, kerjasama dengan wali murid, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan semua murid. Pembelajaran tidak hanya terjadi lewat kata-kata, tetapi melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, gerakan tangan, hingga kontak mata yang penuh makna.
Pembelajaran di SLB bukan hanya tentang memahami materi, tetapi tentang memahami hati. Murid berkebutuhan khusus belajar dengan ritme yang berbeda-beda, ada yang mengekspresikan diri lewat gerak tangan yang pelan, ada yang memahami dunia melalui benda yang bisa disentuh dan dilihat, ada yang menunjukkan kemajuan lewat satu tatapan yang lebih fokus dari hari-hari sebelumnya.
Guru SLB dituntut tidak hanya mengajar diruangan kelas, mereka juga harus dituntut untuk menerjemahkan dunia, mereka harus mampu menafsirkan diam, mereka mengubah kebingungan menjadi pemahaman. Mereka harus mampu membangun jembatan antara potensi murid dan masa depan yang mungkin belum mereka bayangkan. Lalu bagaimana proses pengoptimalan pembelajaran bagi murid berketuhan khusus untuk guru di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Dalam proses pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), guru sering kali dihadapkan pada pertanyaan penting, bagaimana memastikan bahwa murid tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga benar-benar memahaminya. Di sinilah konsep surface learning dan deep learning memegang peranan penting. Keduanya bukan dua pendekatan yang harus dipertentangkan, tetapi justru dua lapisan pembelajaran yang perlu dipadukan secara harmonis agar pembelajaran menjadi optimal.
Memahami surface learning dan perannya, surface learning adalah pembelajaran pada tingkat permukaan. Siswa menerima informasi, menghafal fakta, mengenal istilah, memahami langkah-langkah dasar, dan mengingat konsep kunci. Pembelajaran ini bersifat fundamental bagi murid berkebutuhan khusus karena tanpa fondasi pengetahuan permukaan, murid akan kesulitan melangkah ke tahap yang lebih tinggi.
Surface learning akan membantu murid mengenal istilah dan simbol, memahami contoh-contoh dasar, mengingat informasi penting, membangun pengetahuan awal sebagai pijakan belajar lebih mendalam. Dengan kata lain, surface learning adalah pondasi. Sama seperti membangun rumah, lantai pertama yang harus kuat sebelum lantai kedua dibangun.
Deep Learning sebagai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, deep learning adalah pembelajaran yang menuntut pemahaman lebih mendalam. Pada tahap ini, murid tidak sekadar menghafal, tetapi mampu menghubungkan, menalar, menganalisis dan mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi berbeda. Deep learning membantu siswa untuk melihat hubungan antar konsep, memecahkan masalah secara kreatif, membuat keputusan berdasarkan bukti, dan merefleksikan proses belajar yang sudah dipelajari. Deep learning menghasilkan pembelajaran yang bermakna, bertahan lama, dan relevan dengan kehidupan nyata bagi murid berkebutuhan khusus.
Dan mengapa kombinasi keduanya sangat penting? sering kali guru SLB merasa harus memilih, apakah cukup dengan eksplorasi mendalam, atau memastikan hafalan anak akan kuat dalam konsep materi pembelajaran? Padahal, keduanya bukan pilihan, tetapi pasangan yang saling melengkapi.
Pembelajaran yang optimal terjadi ketika, surface learning memberikan struktur dan deep learning memberikan makna. Keduanya seperti dua sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan. Jika hanya surface learning, siswa cepat lupa. Jika hanya deep learning, siswa sering bingung karena tidak memiliki fondasi. Kombinasi keduanya menciptakan alur pembelajaran yang efektif from knowing to understanding.
Dan bagaimana strategi kombinasi efektif di ruang kelas anak berkebutuhan khusus? Pertama dimulai dari pengetahuan dasar (surface), guru memperkenalkan konsep melalui contoh, gambar, definisi, dan langkah-langkah dasar. Ke dua, lanjutkan ke pemahaman mendalam (deep), setelah fondasi kuat, siswa diajak berpikir kritis melalui diskusi, eksplorasi dan aplikasi. Ke tiga, gunakan aktivitas yang menghubungkan keduanya. Beberapa metode yang dapat digunakan:
- Scaffolding: memberikan bantuan bertahap, lalu dilepas.
- Problem solving: anak memecahkan masalah nyata.
- Project based learning: mengintegrasikan konsep permukaan ke aplikasi nyata.
- Reflective questioning: guru menggali alasan, pendapat dan pemahaman siswa.
Dan yang ke empat lakukan evaluasi berlapis. Evaluasi surface learning seperti kuis, hafalan, definisi, latihan dasar. Evaluasi deep learning seperti studi kasus, portofolio, proyek, analisis.
Bagaimana penerapannya untuk murid berkebutuhan khusus? Murid berkebutuhan khusus, seperti anak dengan hambatan penglihatan, anak dengan hambatan pendengaran, anak dengan hambatan intelektual, lamban belajar, kesulitan belajar, autis, ADHD dan yang lainnya, kombinasi surface dan deep learning menjadi sangat vital. Pengetahuan permukaan membantu mereka memahami struktur, sementara pembelajaran mendalam membantu mereka mengaitkan dengan pengalaman sensori, visual, atau konkret. Misalnya, anak dengan hambatan pendengaran (tunarungu) memulai dengan surface learning berupa simbol isyarat, lalu deep learning ketika mereka menggunakannya dalam percakapan sosial. Anak dengan hambatan intelektual memulai dengan contoh konkret (surface), lalu deep learning ketika mereka mampu mengeneralisasikannya dan anak autis memulai dengan pengulangan (surface), lalu deep learning ketika mereka memahami konteks sosial yang lebih luas.
Kuncinya adalah semua guru mampu memberikan waktu, struktur, dan dukungan pembelajaran yang sesuai ritme kebutuhan murid berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB). Mengoptimalkan pembelajaran bukanlah soal memilih pendekatan terbaik, melainkan bagaimana menggabungkan dua pendekatan secara bijak dan seimbang. Surface learning memberikan pondasi, deep learning memberikan kedalaman. Ketika keduanya dipadukan, proses belajar menjadi kuat, bermakna, dan bertahan jangka panjang. Dengan kombinasi efektif antara keduanya, guru dapat memastikan bahwa setiap murid berkebutuhan khusus tidak hanya tahu, tetapi memahami. Tidak hanya mengingat, tetapi mengerti. Tidak hanya belajar, tetapi tumbuh.








