• Disclaimer
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • Padang
    • Agam
    • 50 Kota
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Mentawai
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman Barat
    • Pasaman Timur
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • PENDIDIKAN
  • PEMILU
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • LAINYA
    • PERISTIWA
    • TEKNOLOGI
    • PARIWISATA
    • Madani TV
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • Padang
    • Agam
    • 50 Kota
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Mentawai
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman Barat
    • Pasaman Timur
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • PENDIDIKAN
  • PEMILU
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • LAINYA
    • PERISTIWA
    • TEKNOLOGI
    • PARIWISATA
    • Madani TV
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home SUMBAR

Pondok Pesantren Berbasis Surau

Oleh: Buya Harmen Hadi/Abi Buya (Pengasuh Ponpes PBS Kapur IX Lima Puluh Kota)

Ifdal Lillahi by Ifdal Lillahi
3 tahun ago
in SUMBAR
147 6
Pondok Pesantren Berbasis Surau
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sumbarmadani.com-Perkembangan dunia dewasa ini, bukanlah sebuah isapan jempol belaka terhadap perilaku, akhlak dan pergaulan generasi muda, dari waktu ke waktu sangat memprihatinkan. Hal tersebut terasa kentara di tengah masyarakat dengan maraknya pergaulan bebas, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya. Data dari salah satu Puskesmas tahun 2015-2017 di kecamatan pedalaman Sumatera Barat, menunjukkan bahwa di sebuah kenagarian, dari 10 anak perempuan yang sudah menikah, 9 diantaranya sudah pernah melakukan hubungan diluar nikah dan free sex. 

Selanjutnya, anak-anak dan remaja di Sumatera Barat saat ini juga termasuk salah satu penyumbang pemakai narkoba yang signifikan di negeri ini. Hal ini terbukti dengan adanya gembong bandar narkoba di Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Jika fenomena ini tetap terjadi dan berkembang, maka akan sangat membahayakan untuk generasi mendatang Sumatera Barat. Apalagi, sungguh miris mengetahui anak-anak seusia sekolah dasar (SD) sudah terpengaruh dan terindikasi penyimpangan tersebut.

Jika kita merenung dan berpikir sejak, mengapa hal ini bisa terjadi? paling tidak ada 5 hal yang penulis pikir menjadi dasar penyebabnya. Pertama, pengaruh arus globalisasi. Perkembangan sosial media dan konten-konten yang sangat menjamur tanpa adanya proses filterisasi, menjadi pemicu awal dari sikap tiru meniru, hingga penyimpangan yang terjadi. Dunia global adalah dunia yang telanjang atas segala arus informasi yang semakin tak terbendung arusnya. Kedua, ketidakberdayaan para orang tua untuk mengontrol dan mendampingi anak-anak mereka sejak usia dini hingga remaja. Seperti kita tahu bahwa anak-anak memerlukan perhatian sejak kecil hingga menjelang remaja.

Hal ini bukan berarti tidak ada sebabnya, meskipun tak dapat dijadikan alibi sebagai tempat berlindung dari tanggung jawab. Sebagai contoh, para orang tua yang berprofesi sebagai petani di pedesaan, dan atau bagi mereka yang memang memiliki lahan jauh dari area pemukiman yang mengharuskan mereka menginap berhari-hari di kebun/ladang, atau bagai masyarakat perkotaan yang sudah disibukkan dengan pekerjaan rutin kantor, pergi pagi pulang sore atau bahkan larut malam, sementara anak mereka di rumah bebas melakukan apa saja tanpa kontrol dan pendampingan. Inilah tampaknya yang menjadi penyebab utama, karena minimnya perhatian dan bahkan tak adanya kontrol dari orang tua. 

Ketiga, perkembangan teknologi informasi yang semakin tak terbendung, dunia global yang transparan, terbuka dan sangat vulgar, tak tanggung-tanggung semua budaya dan ideologi dari belahan dunia bisa diakses secara mudah, sangat mudah melakukan maksiat dan kejahatan didunia maya tanpa batas dan norma. Keempat, minimnya penanaman aqidah pendidikan agama. Agama hanya sebagai formalitas nan melembaga bagaikan sesuatu yang bersifat adagium saja, tak lebih dari sekedar simbolik karena orang minang identik dengan agama, sebagaimana filosofinya ‘adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah’. 

Pondok-pondok pesantren yang digandrungi adalah pondok-pondok pesantren keren secara fisik, wah dan mewah, yang sangat jauh dari esensi ilmu, pembentukan karakter yang berbasis akhlakul karimah, dan tujuan lahirnya ulama dengan kualitas keilmuan yang mumpuni, latah dengan kebanggaan-kebanggan simbol agama yang terlihat hebat. Sebagai suatu contoh kecil saja, bermunculan rumah-rumah tahfidz untuk menghafal Al-Qur’an, didukung oleh pemerintah yang ingin terlihat keren mencetak ribuan penghafal Al-Qur’an selama masa kepemimpinannya.

Lalu dibuatlah program di sekolah dan setiap nagari, padahal mereka para elit tak mencoba untuk menyelam mencari sumber masalahnya, ibarat dokter yang tak menggali apa penyakit pasiennya, asal diberi resep saja. Maka lahirlah orang-orang yang hafal Al-Qur’an tapi tak mengerti dan tak paham isinya, bermunculan lah alumni-alumni pesantren minus adab dan perilaku apalagi kapasitasnya tak menunjukkan ia sebagai santri pondok pesantren yang diharapkan sebagai kitab berjalan atau tempat bertanya dan mencari solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar nya. 

Kelima, kebijakan pemerintah yang khususnya melahirkan aturan atau undang-undang dan adat yang sudah tidak lagi berdiri tegak mengawal anak-anak Nagarinya. Harusnya regulasi yang hadir adalah regulasi mengakomodir kebutuhan dasar keagamaan itu sendiri yang sekaligus bisa menjadi sebuah solusi taktis, praktis, cepat, dan tanggap jika tak ingin berjatuhan lagi korban dari generasi berikutnya. Dari semua pemaparan diatas perlu kiranya kita bersama sejenak untuk memikirkan bagaimana nasib anak, cucu dan kemenakan kita diwaktu mendatang.

Sebuah Upaya; Meghadirkan Pondok Pesantren Berbasis Surau (PBS)

Untuk menjawab pelbagai persoalan yang tengah terjadi, penulis mencoba menawarkan sebuah gagasan Pesantren Berbasis Surau sebagai upaya yang layak menjadi salah satu solusi dari persoalan ini. Pondok Pesantren Berbasis Surau atau kita singkat dengan PBS berbeda dari pesantren pada umumnya. PBS mengadopsi metode pendidikan surau tempo dulu dengan kurikulum berbasis Karakter (akhlakul karimah) dengan materi Diniyah (agama), adat istiadat, dan Silek. Tiga materi wajib yang diberikan berlandaskan filosofi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”, syarak mangato adaik mamakai”, diturunkan dalam bentuk kurikulum, yang disebut Kurikulum PBS. Adapun metode pembelajaran pesantrennya mengacu kepada kurikulum pembelajaran Pondok Pesantren Salafiyah, Dirjen Pendidikan Islam No. 4832 tahun 2018. Pembelajaran yang memakai metode kitab kuning (kitab gundul).

Sebagaimana Surau, Pesantren ini membebaskan para santri untuk memilih sekolah di luar PBS sesuai minatnya, bahkan bagi mereka yang tidak sekolah sekalipun, sangat dianjurkan untuk ikut pendidikan di Pesantren ini. Kategori Santri dibagi menjadi tiga; Pertama Santri Diniyah, Kedua Santri Surau, dan yang Ketiga Santri Pondok.

Santri Diniyah adalah santri yang belajar Diniyah (agama) bagi mereka yang memilih sekolah di luar PBS. Mereka belajar informal sepulang sekolah di PBS dengan waktu yang terbatas sejak siang hingga malam hari. Santri Surau adalah santri yang melanjutkan belajar sepulang sekolah dan menginap di PBS. Pada malam harinya, mengikuti kajian, kegiatan Silek, tahfidzul Qur’an, dan pembelajaran diniyah di PBS hingga pagi hari. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing untuk bekerja dan atau untuk sekolah bagi yang masih bersekolah.

Adapun Santri Pondok adalah Santri Salafiyah yang berada di Pesantren selama 24 jam. Mereka terikat dengan kurikulum Salafiyah (Kitab Kuning) dengan tingkatan jenjang pendidikan Ula, Wustha dan Ulya. Ula setingkat sekolah dasar (SD), Wustha setingkat sekolah menengah (SLTP) dan ‘Ulya setingkat sekolah atas (SLTA). Gedung PBS pun mengacu kepada konsep kultural adat dan Surau. Maka baiknya semua gedung diberi nama dengan nama Surau. 

Pertama Surau Tahfidz, merupakan surau tempat belajar ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Ilmu-ilmu hadits seperti: Ilmu Tajwid, Ilmu Tahsin, dan Tahfidzul Qur’an. Kedua Surau Fiqh, yaitu surau tempat belajar ilmu-ilmu fiqh & Kitab Kuning. Ketiga Surau Tasawuf, yaitu surau tempat belajar Aqidah, Akhlak, dan Sejarah Islam. Keempat Surau Bahasa, yaitu Surau Pusat Bahasa; Belajar Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, dan lain-lain yang seumpamanya. Kelima Surau Adat, surau tempat belajar Adat Minangkabau, Pituah Adat, Al Barzanji, Marhaban, Hadrah, dan ilmu-ilmu terkait kearifan lokal, dan kebijaksanaan dalam hidup. Keenam Surau Silek, Surau tempat belajar Silek, Motivasi, pengembangan diri (personality) dan yang seumpamanya. Ketujuh Surau Bundo Kanduang, adalah Surau tempat belajar santri putri; mengasah keterampilan-keterampilan terkait perempuan; seperti memasak, menjahit, tata rias, dan keterampilan-keterampilan lain-nya. Inilah konsep Pondok Pesantren Berbasis Surau (PBS) yang diharapkan kelak dapat menjadi solusi. Semoga Bermanfaat. (*)

Previous Post

Cak Imin Rencanakan Safari Politik di Sumbar: Bertemu Pedagang, Mahasiswa, dan Kader PKB

Next Post

Erupsi Gunung Marapi Timbulkan Hujan Abu di Ampek Angkek, Candung

Next Post
Erupsi Gunung Marapi Timbulkan Hujan Abu di Ampek Angkek, Candung

Erupsi Gunung Marapi Timbulkan Hujan Abu di Ampek Angkek, Candung

Recommended.

Pemkot Padang Wajibkan Badan Usaha Kelola Sampah Mandiri untuk Lingkungan Bersih

Pemkot Padang Wajibkan Badan Usaha Kelola Sampah Mandiri untuk Lingkungan Bersih

11 Oktober 2024 | 09:34
Karyawan PNP Ditemukan Tewas di Depan Rumah, TRC Rumah Zakat Cepat Bergerak

Karyawan PNP Ditemukan Tewas di Depan Rumah, TRC Rumah Zakat Cepat Bergerak

27 April 2023 | 15:40

Trending.

Masjid Jabal Rahmah Semen Padang Kembali Raih Juara 1 Pesantren Ramadan Terbaik Tingkat Kota Padang

Masjid Jabal Rahmah Semen Padang Kembali Raih Juara 1 Pesantren Ramadan Terbaik Tingkat Kota Padang

26 Maret 2025 | 03:19
Sumbarmadani.com

© 2023 MMG

  • Disclaimer
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • DAERAH
    • Padang
    • Agam
    • 50 Kota
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Mentawai
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman Barat
    • Pasaman Timur
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • PENDIDIKAN
  • PEMILU
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • LAINYA
    • PERISTIWA
    • TEKNOLOGI
    • PARIWISATA
    • Madani TV

© 2023 MMG

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In