Sumbarmadani.com- Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatra Barat, Audy Joinaldy, memaparkan kebijakan terbaru terkait mitigasi bencana alam di Sumatera Barat. Salah satu langkah strategis yang disampaikan adalah rencana penerapan Earthquake Early Warning System (EEWS), sebuah sistem peringatan dini gempa bumi yang diharapkan dapat meminimalisir dampak bencana alam di wilayah tersebut.
EEWS bekerja dengan mendeteksi gelombang gempa sebelum getaran utama terjadi, sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri. “Sistem ini memberikan waktu berharga bagi masyarakat untuk berlindung sebelum gempa besar terjadi,” jelas Audy dalam keterangan persnya pada Rabu, 9 Oktober 2024. Sistem ini diharapkan mampu menyelamatkan banyak nyawa dengan memberikan peringatan dini.
Selain EEWS, Audy juga memaparkan 10 kebijakan utama yang diterapkan Pemprov Sumbar dalam penanggulangan bencana. Kebijakan tersebut meliputi pengaktifan sistem peringatan dini (EWS), optimalisasi tempat evakuasi sementara, peningkatan jalur evakuasi, serta penerapan bangunan tahan gempa sebagai shelter. Audy menekankan bahwa kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana harus terus ditingkatkan.
Kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak, seperti organisasi kemanusiaan, akademisi, dan masyarakat, juga dianggap sangat penting oleh Audy dalam upaya meminimalisir risiko bencana. “Sumbar sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk memperkuat mitigasi risiko bencana di wilayah ini,” ujarnya. Salah satu mitra strategis yang telah berperan aktif dalam penanganan bencana adalah Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia telah mengalami 874 bencana selama Januari hingga Juni 2024. Bencana tersebut menyebabkan 263 korban jiwa dan hampir 4 juta orang mengungsi. Di Sumatera Barat, telah terjadi 141 bencana dengan 94 korban jiwa, serta ribuan rumah dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan.
Menyikapi data ini, Audy menegaskan bahwa penerapan sistem peringatan dini seperti EEWS harus segera direalisasikan untuk mengurangi dampak bencana di masa depan. “Bencana memang tidak bisa diprediksi, tetapi kita harus memanfaatkan teknologi dan upaya mitigasi lainnya untuk meminimalisir korban dan kerugian,” tutupnya.


